Senin, 02 April 2012

3 Cara Mendeteksi Turunnya Motivasi Belajar Siswa


Kank ,bagaimana caranya agar saya bisa mengenali penyebab turunnya motivasi belajar beberapa siswa saya..?


Ada banyak penyebab siswa mengalami penurunan belajarnya ,baik yang bersifat internal dan eksternal.Namun yang lebih baik adalah mengetahui sebab –sebabnya mengapa siswa mengalami penurunan  semangat belajarnya…

Pertama,Hargai dan keluhan curahan hatinya

Sebagai guru anda harus benar benar “mendengar’ suara siswa.Apakah kecemasan dan harapan mereka terhadap kegiatan belajarnya.Memang boleh saja siswa bercerita mengarang untuk mempertahankan egonya lantaran takut disalahkan.Namun dengan anda mendengarkan “keluhan ‘siswa ,paling tidak dengan mendapatkan informasi penyebab mengapa siswa tersebut berperilaku demikian.Sehingga dapat menentukan langkah yang tepat dalam memotivasi siswa dalam tugas belajarnya.


Kedua ,Kaitkan Dengan konsekuensi logis dari perilakunya

Seorang guru  harus menyadari bahwa setiap tindakan ada resiko dan kosekuensi logisnya,sehingga dalam memotivasi siswa dapat membangkitkan kesadarannya tindakan apapun yang dilakukannya akan kembali kepada  siswa bersangkutan.Karena itu berbicaralah dengan bahasa sederhana yang dimengerti siswa ,kaitkan dengan relevansi perilaku dengan akibatnya,berikan kesempatan  siswa berpikir logis dan menganalisa setiap tindakannya.Jangan sampai nasehat anda hanya sebatas kothbah yang membuat siswa makin menjahui anda.


Ketiga ,Jadilah sahabat siswa

Semakin sering anda bisa berinteraksi dengan siswa apalagi mendengarkan keluhan mereka,semakin siswa dapat anda kenali karakternya.Sehingga melalui karakter dan sifatnya ,anda bisa menemukan strategi komunikasi yang pas bagi mereka.Di era serba internet ini anda pun bisa bergabung dalam komunitas  sosial networking milik  siswa,bukan saja untuk memantau pola pergaulan mereka terlebih dari itu anda dapat berkomunikasi lebih”dalam “dengan siswa dan mengarahkan menuju masa depan yang lebih baik. Interaksi dengan siswa diera internet ini harus ditingkatkan seorang guru untuk menghindarkan siswa dari hal hal yang tidak diinginkan.

Dengan menerapkan 3 cara  ini setidaknya anda dapat mendekati dan memotivasi siswa dengan cara yang tepat.

Selasa, 06 Maret 2012

,The Best Parenting Teacher ,Guru Yang Mendidik


Case Study



Siswa saya rata –rata IQnya 110-120 dari keluarga yang menengah atas .Sebenarnya enak juga mengajar mereka ,lantaran secara input mereka  adalah teachable mudah mempelajari sesuatu. Namun bukan berarti tidak ada persoalan ,beberapa siswa juga sulit “dikendalikan”.Salah satu siswa saya  pindahan dari  daerah  perilakunya  kritis tapi juga sulit dikendalikan,menurut orang tuanya sebenarnya ia anak baik. Namun sejak pindah ke sekolah ini perilakunya berubah ,banyak main dengan teman temannya dan jarang belajar,kalaupun belajar angin anginan satu jam sudah cukup kata orang tuanya.Padahal dulu waktu di daerah ,sepulang sekolah pasti mengerjakan PR dan belajar buat persiapan esok hari.

Ternyata pergaulan di kota fasilitas dan sarana ICT menjadi kendala konsentrasi a siswa saya ini.”Banyak teman anak saya yang ngajak bermain bahkan saat belajar tidak jarang HPnya selalu bunyi dan apalagi jika sudah berFB rasanya tidak berhenti kalau tidak tidur”,Masih kata orang tuanya.

Bagi saya tidak mudah memang memperbaiki siswa siswa yang “special” ini,butuh kesabaran ekstra dan strategi….  !



Qur’anic Frame work

‘Perhatikan ,bagaimana  Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lainnya”QS al –Isra :21.


 Parenting  Solution


Perubahan lingkungan belajar dan situasi dimana anak/peserta didik  berada mempengaruhi pola perilaku siswa  tersebut termasuk dalam kegiatan belajarnya.Tugas seorang guru yang memiliki kompetensi pedagogic  bukanlah hanya hebat saat menerangkan pelajaran ,melainkan sebagai guru yang mumpuni dan siap menghadapi siswa se “special “apapun. Karakter dan kompetensi yang dibutuhkan untuk mempersiapkan guru menghadapi tantangan dan kesulitan kegiatan pembelajaran sebagai berikut.


1.       Understanding Education Value


Seorang guru diharapkan memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip perkembangan kognitif dan psikososialnya,menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik dan kompetensi yang ingin dicapai . Sedangkan implementasi maksud dari kurikulum seorang guru diharapkan bisa mengevaluasi substansi materi ajar yang ada dalam kurikulum dan  memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan kompetensi siswa ,akademik /non akademik.

Dengan memahami perilaku peserta didik seorang guru akan memiliki kesabaran untuk memilih strategi yang tepat dalam mengajak siswa menuju perubahan kearah kebaikan dan kemajuan.


2. Learning  Culture

Seorang guru diharapkan dapat terbentuk budaya kerjanya ,melalui kedisiplinan,ketelitian,semangat,belajar berkesinambungan ,bersemangat dan senantiasa bekerja secara optimal untuk kepentingan terbaik siswanya.Memiliki  jiwa kepemimpinan dan bangga terhadap profesi guru yang disandangnya sehingga memiliki kode etik sebagai pendidik dan konsisten serta bertindak sesuai norma yang berlaku.

Budaya kerja guru akan menjadi teladan dan motivasi siswa untuk berperilaku positif.


3.        3.  Knowledge Transformation

Mengidentifikasi tingkatan penguasaan materi belajar siswa,mengidentifikasi tingkat kesulitan belajar,mengidentifikasi tugas tugas perkembangan kognitif dan psikososial siswa.Selanjutnya menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi  pembelajaran yang sesuai karakteristik peserta didik .Termasuk merancang pengalaman belajar yang menyenangkan bagi siswa sehingga tercapai  target kompetensi yang ingin di capai.


Setiap siswa memiliki rasa ingin tahu maka  tranfers pengetahuan oleh guru  semestinya dapat membangkitan hasrat belajar siswa.




4.     4.  Sustaining learning growth


Dalam pengembangan pembelajaran berkesinambungan guru dapat melaksanakan kegiatan pembelajarannya sesuai RPP  yang interaktif,inspiratif menyenangkan dan menantang.Para peserta didik dapat bersemangat dan berbahagia sekaligus memperoleh kesempatan yang sama untuk melakukan eksplorasi dan elaborasi serta mendapatkan penjelasan tentang kompetensi yang dicapai .


Karena itu guru perlu memiliki pengetahuan evaluasi belajar siswa meliputi tahap perencanaan,pelaksanaan dan penilaian hasil pembelajaran.Sehingga siswa dapat menganilsa diri sekaligus merencanakan pengembangan belajar berkelanjutan.

Bersambung

Senin, 05 Maret 2012

Mengajarkan Siswa Cara Memilih Jurusan ,Learn How To Chose (1)


“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat MU yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ,ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau Ridhai dan masukanlah aku ke dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba hambamu yang saleh”. Qs an Najm : 19







Case Study

“Saat ini siswa  saya duduk dikelas tiga SMA ,orang tuanya  ingin dia masuk Sastra Inggris karena menurut nya berprospek cerah disamping nilai bahasa Inggrisnya nyaris sempurna.Harapan orang tua  kelak kalau dia lulus bisa bekerja diperusahaan asing atau paling tidak kemampuan bahasa inggris berguna untuk menjadi guru. Tapi dia tidak mau malah ingin masuk ke jurusan otomotif ,meskipun nilai matematika dan bagus tapi orang tuanya  meragukan kemampuan siswa saya .Namun dia tetap  ngotot masuk kejurusan itu .Lantas saya sebagai gurunya  harus bagaimana…?”



Problem Solution

Sering kali pemilihan jurusan itu menjadi persoalan tersendiri bagi seorang siswa .Apabila memilih jurusan tanpa pertimbangan yang masak ,yang terjadi bisa fatal akibatnya. Siswa bersangkutan bisa tidak berprestasi dibangku kuliahnya bahkan bisa Drop Out dari kampus bersangkutan.Dalam pemilihan jurusan banyak yang mempengaruhi siswa antara lain konsep idealnya sendiri,ikutan teman,pengaruh trend fakultas yang laris,sampai tekanan dari orang tua.Maka pengenalan cara   dalam pengambilan keputusan menjadi penting.

Pertama :Actual Situation VS  Ideal Situation

Cita cita ,harapan tentang ingin jadi apa sering kali merupakan konsep ideal. Boleh saja memiliki konsep ideal namun akan berbuah pada kekecewaan jika harapan itu tidak terwujud lantaran kemampuan tidak memadai namun kemauan terlalu  tinggi. Sehingga bisa harus gugur baru pada tahap seleksi,mengingat test kemampuan  potensi akademik lebih mengukurpada kemampuan kognitif siswa dalam menyelesaikan pertanyaan pertanyaan yang diajukan.Karena itu diperlukan actual situation,ajaklah siswa mengukur kemampuannya sendiri dengan melihat capaian angka akademiknya,kemampuan ,hasil test psikologi dan minatnya.Orang tua dan guru harus bijak dalam membaca data dan kondisi actual siswa agar siswa juga dapat logis mengukur kemampuannya sendiri.


Kedua :Problem VS Opportunity

Jika kemudian anak melihat bahwa minat anak dan kemampuan nya tinggi ,kemudian terkendala pada problem pembiayaan .Ajaklah anak untuk melihat masalah itu sebagai tantangan opportunity dapat menyelesaikannya.Demikian juga sebaliknya jika masalah justru muncul dari anak tidak berminat dan tidak memiliki kemampuan pada jurusan yang dipilihnya sesungguhnya adalah problem.Lantaran anak pasti akan menderita menjalankan tugas yang tidak disukainya dan dikuasainya.Sebagus apapun prospek karir dari jurusan yang dipilihnya.


Ketiga : Relates to the past VS looks to the future

Paradigma berpikir bahwa belajar diperguruan tinggi hanya kuliah dengan meraih IPK setinggi tingginya tidak salah karena dimasa lalu memang yang pintar pasti akan sukses. Namun dimasa kini ,kebutuhan pasar kerja dimasa depan justru menuntut lulusan yang memiliki life skill dan soft skill artinya bukan hanya menguasi teori dari ilmu yang dipelajarinya melainkan etos kerja,learn how to do dan learning by doing serta pengalaman real di masyarakat/industry secra factual. Mengandalkan kompetensi akademik saja tidak lah cukup untuk saat ini.. Namun demikian mengukur kompetensi siswa /peserta didik adalah lebih mudah  dengan melihat capaian prestasi akademiknya dimasa lalu dan digunakan untuk meneropong masa depannya.

Keempat :Many Parent or teacher make mistake of asking  question too un cover  only problem.


Banyak orang tua dan guru melakukan kesalahan dalam memberikan jawaban atas  problem yang dihadapi siswa.Seringkali menggunakan persepsinya sendiri dalam memberi  wawasan pada siswa akan pilihan yang harus diambil nya. Dan tidak jarang jawaban orang tua/guru    tidak didasari dengan sebuah analisa yang kuat namun berdasar presepsi nya sendiri. Akibatnya bukan hanya siswa kecewa  dan konflik namun juga bisa menderita saat kuliah. Maka pentingnya berdialog secara logis dengan siswa,agar siswa bisa mengambil keputusan yang tepat dalam memilih jurusannya adalah lebih penting dari pada pendapat anda yang anda anggap penting.


Siswa membutuhkan bimbingan yang logis dari  orang tua /guru guna memiliki wawasan dalam pengambilan keputusan menentukan jurusannya   maupun pilihan penting bagi kehidupannya.

Sabtu, 25 Februari 2012

Need for Understanding From Teen,Remaja Butuh Dimengerti


Case  Study 


“Sebagai ibu saya sering dibuat jengkel oleh ulah anak saya yang baru menginjak kelas VIII,saya sering dianggap memaksakan kehendak kepadanya ,anak saya lebih banyak membantah dari pada menjalankan perintah.Akibatnya saya sering bentak bentakan dengan anak. Sampai sekarang saya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan anak saya.Saya heran mengapa dia tidak bisa ngertiin apa yang saya mau..”

“Kalau belajar ,atau mengerjakan kewajiban tugas rumah saya sering perintah berkali kali.Saya jadi sering jengkel ,sedih dan marah dalam hati.Walaupun kalau saya sudah sedih anak saya baru mau mengerjakan tugasnya.”

“Saya melakukan itu bukan tanpa alasan,saya berharap anak kelak menjadi orang yang punya tanggung jawab terhadap kepentingannya sendiri. Namun karena dia tidak pernah bisa mengerti ,ya akhirnya saya terpaksa menggunakan kekuasaan sebagai orang tua untuk mengaturnya,walau kadang dengan paksaan dan ancaman.Saya tahu yang seperti ini,sudah tidak relevan bagi kehidupan remaja saat ini”.


“Walaupun saya tahu remaja saat ini,sangat kritis dan cerdas termasuk anak saya.Saya memang berharap bisa dengan sabar bisa mengerti apa yang dia mau tapi yang terjadi.malah saya jadi jengkel karena dia banyak membantah. Membuat saya jadi jengkel dan selalu rebut dengan mereka”.


“ Saat saya dulu remaja memang tidak jauh berbeda dari anak saya tapi saya tidak berani membantah orang tua saya terang terang an .Dan pendidikan yang diberikan orang tua saya membuat saya sukses seperti saat ini. Walaupun saat itu saya beranggapan orang tua saya sangat ‘kejam “.memang kadang saya tidak bisa mengendalikan diri untuk tidak memaki  dan membentak remaja”.

“Ya beginilah susahnya menjadi orang tua dijaman “kemerdekaan “ bagi remaja…!”



 Relationship Strategic

Menghadapi remaja saat ini  lebih berat disbanding remaja generasi 70an-80an ,kehidupan remaja saat ini sudah lebur dengan berbagai media feature Information ,technology & communication ICT.Mereka semakin dekat dengan internet lengkap dengan pergaulan  factual dan virtual.Generasi melania ini semakin cuek dan mulai kurang menghargai aturan norma dsb.namun mereka adalah generasi yang cemas lantaran pengaruh life style dari peer gruopnya maupun tekanan tuntutan tugas perkembangannya,persaingan serta tata tertib sekolah. Benturan antara kecemasan dan hasrat untuk menemukan jati diri inilah yang mengakibatkan mereka melakukan”pemberontakan”.



Zona Nyaman
Anda sebagai orang tua yang memiliki remaja yang cuek ,tidak mentaati perintah dsb. Bahkan saat anda berteriak dia lebih asyik nonton sinetron  kesayangannya,santai dan cuek. Sesungguhnya anak remaja ini memang enggan meninggalkan keasyikan  yang telah didapatnya sebelum tugas itu diberikan. Konsekuensinya anda lebih banyak marah marah daripada berpikir bagaimana agar anak menunaikan kewajibannya.

TIP :

 Langkah pertama adalah memberikan aturan main sebelum anak tenggelam dalam kesengannya. Misalnya ;mandi dulu sebelum nonton  TV,menyapu dulu sebelum bermain  game dsb.  Kedua menegurnya kalu mereka melalaikan kewajiban dan menegakkan konsistensi disiplin yang telah disepakati.


Patuh tapi Menggerutu

Sekilas anak memang kelihatannya melaksanakan perintah anda.dengan cara melaksanakan perintah orang tua nya mereka berharap tidak ada “pertempuran “ antara dirinya dan orang tuanya,menghindari bentakan cacian dsb. Jangan keburu senang ketika anak melakukan tugas dengan hati yang tidak”ikhlas”itu karena anak hanya menjalankan tugas dengan terpaksa ,tidak mengerti alas an mengapa dia harus mengerjakan itu dan pada akhirnya dia tidak pernah belajar tentang arti menjalankan kewajiban nya.Hal ini terjadi jika perintah anda  ,tidak dalam waktu yang tepat seperti saat mereka asyik dengan  tugas sekolahnya asyik dengan acara music dan tugas diberikan secara mendadak tanpa pemberitahuan dahulu.



TIP :

Jangan memberikan perintah yang mendadak apalagi disaat anak tengah menjalankan kegiatan sekolahnya atau sedang asyik dengan waktu nya sendiri.Apalagi tugas itu sebenarnya bisa anda kerjakan sendiri.


Kesadaran Penuh



pekerjaan apapun akan segera dapat berjalan optimal apabila dikerjakan dengan senang  hati.Untuk membuat remaja memiliki kesadaran penuh dalam menjalankan kewajibannya diperlukan langkah sebagai berikut

Pertama : perlunya “sosialisasi “ dan edukasi kepada siswa dengan komunikasi yang dialogis antara anak dan orang tua. Dialogis berarti anda sebagai orang tua juga mendengar pendapat dan keluhan anak. Selanjutnya buat komitmen sebagai pedoman dan aturan berperilaku dirumah.

Kedua ; berikan motivasi kepada anak untuk bersabar dalam melaksanakan kewajibannya. Termasuk ingatkan anak untuk bisa mengendalikan diri dari kesenangannya sebagai bentuk upaya melatih kecerdasan emosinya (EQ).


Ketiga : jadilah orang tua yang lebih mengutamakan kasih sayang dari pada marah marah. Mintalah anak  penjelasan saat belum menunaikan/ menyelesaikan tugasnya. Bantulah dia mengerti bahwa tugas yang dijalankan itu penting bagi kehidupan dan cita cita nya dimasa depan


Keempat : jadikan setiap anggota keluarga memiliki kebisaan melaksanakan kewajibannya tanpa diperintah  sehingga anak terbiasa hidup dalam lingkungan orang orang yang memiliki kesadaran menjalankan tugas dan kewajibanya.


Remaja generasi melania adalah generasi yang paling cepat dalam menang adopsi nilai baru tentang kehidupan ,pastikan nilai nilai kehidupan yang anda anggap baik itu dapat diadopsi oleh remaja anda sendiri.


Kamis, 09 Februari 2012

3E ,Effective Comunication With Your Teen (komunikasi efektif dengan remaja masa kini )


Berkata Musa: “ Ya Tuhanku,lapangkanlah dadaku ,mudahkanlah untukku,utusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku ,supaya mereka mengerti perkataanku “. QS At Thoha ayat 25-28


Usia remaja adalah masa transisi dari anak anak menuju masa dewasa dengan sendirinya mereka kebingungan dalam mencari jati diri.Ditambah lagi kecanggihan teknologi informasi komunikasi(TIK ) ikut membentuk karakter remaja sehingga tantangan dan tuntutan terhadapnya semakin sukar dan berat ,maka tidak jarang mereka mengalami tekanan /stres yang mengakibatkan frustasi.

Sedangkan reaksi terhadap frustrasi biasanya diwujudkan dalam ;

Reaksi Agresi yaitu dengan mengalihkan kesasaran lain seperti tidak mau disalahkan ,mencari kambing hitam ,merusak barang menyakiti teman ,ancaman bunuh diri dsb.

Reaksi mengundurkan diri seperti ,menekan kedalam hati , memendam dendam,berfantasi ,menolak realitas ,menarik diri dan aneka pelarian yang lain ke narkoba seks bebas dsb.

Perlu disadari dalam kebingungan nya mencari peran dimasa perkembangan aspek fisik mental ,social semestinya dibutuhkan pengertian,empati,pembimbingan dari orang tua,guru dan orang dewasa lainnya.

Tugas Orang tua perlu membekali remaja untuk tahu keadaan dirinya,tahu keadaan lingkungannya ,tahu apa yang diinginkan dan tahu apa tuntutan masa depan.Dengan 3E

Pertama : Ensuring (meyakini )

Mengajak remaja menyadari pentingnya meyakini bahwa kesuksesannya di masa depan sangat bergantung kepada diri mereka sendiri.Membangkitkan rasa percaya diri siswa dengan mendorong mereka ,memberi penguatan bahwa percaya pada diri sendiri,meyakini kemampuan dan bahagia atas kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya adalah kunci sukses. Mengingat untuk mencapai segala sesuatu dibutuhkan keyakinan pada diri sendiri.

Kedua : Envisioning (Memberi Gambaran Positif )

Mendengarkan harapan dan impian remaja adalah cara efektif agar anda sebagai guru dan orang tuanya bisa memberi gambaran positif tentang konsekuensi logis dari pilihannya. Sekaligus menemukan cara untuk memberikan motivasi kepada mereka.Envisioning yang diberi kan orang tua semestinya mampu mengajak dengan remaja melihat dengan jelas apa yang diinginkannya dan kemudian memberi semangat untuk mewujudkannya.

Ketiga : Emphatic

Ber empati kepada remaja adalah merupakan" negosiasi" paradigma /konsep berpikir yang jauh berbeda antara orang tua dan kondisi remaja saat ini .Dengan berempati anda sebagai orang tua dan guru dapat mencoba menempatkan diri seperti mereka dengan situasi dan kondisi yang dihadapi nya saat ini,Empati akan mengasah kemampuan anda untuk menerima masukan dan menunjukkan pada remaja bahwa anda memiliki keterbukaan dan dapat dipercaya.Dengan demikian saat anda memberikan pertimbangan anda dapat mengenali keakuratan segala bentuk harapan impian dan kecemasan mereka . Sekaligus anda menjadi sosok yang dapat dipercaya untuk memberi pertimbangan buat ke suksesan masa depannya.

Diperlukan strategi komunikasi efektif untuk membuat remaja menjadi tangguh dalam menghadapi masa depannya